Alex Rins menyebut kondisi panas dan licin di Sepang memperburuk performa Yamaha meski ia berhasil finis di posisi ke-13.
![]() |
| Alex Rins dari Spanyol dan Monster Energy Yamaha mengangkat roda belakang saat latihan MotoGP di Sirkuit Sepang pada 25 Oktober 2025 di Kuala Lumpur, Malaysia. Foto oleh Mirco Lazzari/Getty Images |
Alex Rins akui kesulitan besar di MotoGP Malaysia setelah berjuang keras menghadapi panas ekstrem dan lintasan yang licin di Sirkuit Sepang. Pembalap Monster Yamaha itu mengakhiri balapan di posisi ke-13, hanya dua minggu setelah mencatatkan hasil terbaik musimnya dengan finis ketujuh di Australia.
Meskipun hasil tersebut cukup untuk menambah beberapa poin penting bagi Yamaha, Rins mengakui bahwa performanya di Malaysia jauh dari harapan. Ia menyebut cengkeraman rendah dan suhu tinggi sebagai faktor utama yang memperburuk kinerja motornya sepanjang akhir pekan.
Performa Alex Rins di MotoGP Malaysia berbanding terbalik dengan hasil positif yang diraihnya di Phillip Island. Di Australia, ia tampil kompetitif sejak sesi latihan hingga balapan dan sukses membawa Yamaha ke posisi ketujuh — hasil terbaik bagi dirinya musim ini. Namun, di Sepang, Rins menghadapi kenyataan berbeda sejak sesi latihan pertama.
Ia memulai kualifikasi dari posisi kesepuluh, dua tempat lebih baik dibandingkan di Australia. Namun begitu balapan dimulai, ia segera kehilangan posisi dan terlempar hingga ke urutan ke-16 setelah mengalami keausan ban belakang yang cukup parah di awal lomba. Dalam kondisi lintasan yang sangat panas dan licin, Yamaha tampak kesulitan menjaga stabilitas dan cengkeraman.
Kesabarannya sepanjang 20 lap akhirnya terbayar ketika beberapa pembalap di depannya gagal menyelesaikan balapan. Rins akhirnya menutup MotoGP Malaysia di posisi ke-13 — bukan hasil yang gemilang, tetapi tetap menjadi tambahan poin berharga di musim yang berat bagi Yamaha.
Dalam sesi wawancara usai balapan, Alex Rins akui kesulitan di MotoGP Malaysia disebabkan oleh kondisi lintasan yang sangat berbeda dibanding Australia. “Kami sudah kesulitan sejak FP1 akhir pekan ini,” kata Rins. “Ketika cengkeraman rendah dan suhu tinggi, dampaknya lebih besar bagi kami dibandingkan tim lain. Jadi, kami sudah tahu sejak awal bahwa balapan ini akan sangat sulit.”
Ia menjelaskan bahwa pada lap-lap awal, ia harus menahan diri untuk tidak memaksa terlalu keras agar ban tidak cepat habis. “Awalnya saya bisa melaju lebih cepat, tapi saya memikirkan akhir balapan. Mungkin kalau saya memaksa di tujuh lap pertama, saya akan kehilangan posisi lebih banyak di akhir. Jadi saya memilih bertahan, meskipun itu berarti finis di P13,” ujarnya.
Rins menilai bahwa pendekatan strategis seperti itu penting untuk menghindari keausan ekstrem pada ban, terutama di kondisi panas Sepang yang terkenal berat bagi motor dan pembalap.
Alex Rins juga menjadi salah satu dari sedikit pembalap yang memilih ban depan medium alih-alih soft, namun ia menegaskan bahwa keputusan tersebut bukanlah penyebab performa buruknya. “Ini bukan pertama kalinya kami kesulitan di kondisi cengkeraman rendah dan suhu tinggi,” katanya. “Jadi saya rasa masalahnya bukan pada ban, tapi lebih ke karakter motor kami yang kurang cocok di kondisi seperti ini.”
Rins menjelaskan bahwa Yamaha masih memiliki banyak pekerjaan rumah dalam hal manajemen traksi dan keseimbangan motor di sirkuit dengan grip rendah. “Kami perlu memahami bagaimana caranya menjaga cengkeraman lebih lama tanpa kehilangan kecepatan di tikungan. Ini masalah yang cukup besar karena begitu suhu naik, performa motor kami langsung turun signifikan,” ujarnya.
Sementara Rins harus puas di posisi ke-13, rekan setimnya, Fabio Quartararo, berhasil meraih hasil lebih baik dengan finis kelima. Quartararo memulai dari posisi keempat dan mampu mempertahankan kecepatannya di lap-lap akhir, menunjukkan bahwa masih ada potensi dalam paket motor Yamaha di lintasan tertentu.
Namun, perbandingan itu juga menyoroti perbedaan gaya balap antara dua pembalap tersebut. Rins dikenal lebih halus dan mengandalkan stabilitas saat menikung, sementara Quartararo sering memaksa motor untuk lebih agresif di fase masuk tikungan. Gaya agresif Quartararo tampaknya lebih sesuai dengan kondisi Sepang yang menuntut tekanan maksimal pada ban depan untuk mendapatkan grip tambahan.
Rins sendiri mengakui keunggulan rekan setimnya. “Fabio melakukan pekerjaan luar biasa. Dia bisa menjaga kecepatan di tengah kondisi sulit. Tapi setiap pembalap punya gaya berbeda, dan saya masih mencoba menyesuaikan diri dengan motor ini,” ujarnya.
Musim 2025 menjadi tahun penuh tantangan bagi Alex Rins. Setelah pindah dari LCR Honda ke Monster Yamaha, ia harus beradaptasi dengan karakter motor yang sepenuhnya berbeda. Yamaha M1 dikenal lembut dalam pengiriman tenaga, namun sering bermasalah dalam hal traksi dan kecepatan puncak.
Rins beberapa kali mengeluhkan bahwa motor sulit dikendalikan di lintasan dengan grip rendah, seperti di Mandalika dan Sepang. Situasi itu membuatnya sulit menembus sepuluh besar secara konsisten. Meski demikian, tim tetap optimistis bahwa hasil di Australia dan Malaysia menunjukkan adanya progres kecil menuju arah yang benar.
“Kami memang belum di posisi yang kami inginkan, tapi kami mulai memahami arah pengembangan motor,” kata salah satu insinyur Yamaha yang dikutip dari paddock. “Alex membantu kami dengan umpan balik teknis yang sangat detail, dan itu sangat penting untuk masa depan.”
Yamaha harus temukan solusi
Dengan hanya dua seri tersisa, Yamaha masih memiliki banyak pekerjaan untuk memperbaiki performa motor di kondisi panas. Tim teknik diperkirakan akan fokus pada pengaturan sasis dan distribusi bobot untuk meningkatkan traksi di tikungan lambat.
Alex Rins akui kesulitan di MotoGP Malaysia bukan sekadar hasil dari cuaca ekstrem, melainkan kombinasi dari karakteristik motor dan setup yang belum optimal. “Kami harus bekerja keras untuk menemukan solusi. Kami tahu di trek dengan grip rendah, kami lebih menderita dibanding tim lain. Tapi kami tidak akan menyerah,” katanya tegas.
Rins menambahkan bahwa hasil di Malaysia akan menjadi pelajaran penting untuk dua balapan terakhir di Portimao dan Valencia. “Kami akan mencoba sesuatu yang berbeda di Portugal. Mungkin bukan perubahan besar, tapi cukup untuk memahami arah pengembangan ke depan.”
Bagi Yamaha, musim 2025 adalah masa transisi menuju proyek besar tahun 2026, di mana mereka akan memperkenalkan mesin generasi baru dan paket aerodinamika yang telah diuji selama beberapa bulan terakhir. Rins diperkirakan akan memainkan peran penting dalam pengujian motor tersebut, bersama Fabio Quartararo yang baru memperpanjang kontrak hingga akhir 2026.
Jika Yamaha ingin kembali bersaing dengan Ducati dan Aprilia, mereka perlu menemukan keseimbangan antara tenaga mesin, kontrol traksi, dan efisiensi aerodinamika. Kinerja Alex Rins di MotoGP Malaysia menunjukkan bahwa pekerjaan rumah mereka masih panjang, terutama dalam menjaga performa di lintasan dengan suhu ekstrem.
Alex Rins akui kesulitan besar di MotoGP Malaysia karena cengkeraman rendah dan suhu tinggi yang membuat Yamaha M1 sulit dikendalikan. Meski hanya finis di posisi ke-13, Rins tetap optimistis terhadap arah pengembangan motor untuk musim depan. Pengalaman di Sepang menjadi pengingat bahwa konsistensi dan adaptasi adalah kunci, terutama bagi tim yang tengah berjuang memperbaiki fondasi teknisnya di era dominasi Ducati.
